Eep Syaifuloh Temanku Dulu Di Ohio

6 Mar 2009

Eep Syaifuloh Temanku Dulu Di Ohio

copy-of-eep-sandrina-dan-kaskaya-fatah2(Sumber Photo: Majalah Sharing/Syariah Marketing, Desember 2008)

Siapa yang tak mengenal gambar pasangan tersebut diatas, yaitu sicantik Sandrina Malakiano yang selama ini menjadi salah seorang ikon utama Metro TV dan sicerdas Eep Saifuloh Fatah dosen FISIP jurusan Politik Universitas Indonesia, pengamat politik serta penulis politik Indonesia yang selalu mampu menyajikan hal-hal rumit terkait dinamika politik Indonesia dengan cara renyah terkadang sedikit nakal namun bernas. Mereka sekarang telah dikaruniai seorang anak perempuan dengan nama unik Kaskaya yang saya yakini kelak akan secantik ibunya dan secerdas ayahnya.
Kenapa Eep yang menjadi inspirasi tulisanku kali ini? Setelah melalui diskusi panjang dengan para redaktur papan atas harian Kompas dari grup Gramedia dan penolakan atas tulisan bantahan saya terhadap tulisan Eep menyangkut para figur publik yang turun kekancah politik praktis Indonesia untuk dimasukkan kedalam Surat Pembaca Kompas, atas saran dari salah satunya sahabat baruku Kang Pepih Nugraha dari kompasiana.com, maka tulisan di blog pribadi ini menjadi salah satu jalan keluar dari seluruh keberatan personal serta profesi yang saya rasakan sebagai tindakan diskriminatif dan pelecehan intelektualitas yang ditulis Eep Syafuloh Fatah secara nyata dengan menyebut nama saya Marissa Haque didalam tulisannya dihalaman muka bersambung kehalaman 15 harian Kompas tertanggal 9 Desember 2008 lalu. Berikut dibawah ini copy dari surat pembaca yang saya layangkan ke harian Kompas atas kebratan saya terhadap tulisan Eep yang pernah saya kenal baik selama kuliah di Ohio, Amerika Serikat dimasa lalu:

Komentar yang ditolak pemuatannya
atas keberatan tulisan saudara Eep Saifuloh Fatah pada harian Kompas 9 Desember 2008

Surat Pembaca:

Analisis Politik Eep Saifuloh Fatah
Hanya Semata Delik Culpa?

Biasanya saya sangat menyukai gaya penulisan saudara Eep teman disaat kuliah di Ohio, Amerika Serikat beberapa tahun yang lalu. Namun pada tulisannya di Harian Kompas tertanggal 9 Desember 2008, saya agak mengeryitkan alis mata karena gaya prejudis dan tendensius atas apa yang telah ditulisnya. Rasanya sangat bukan saudara Eep. Karena terkesan menghakimi dan apriori tanpa melengkapinya dengan keterangan tambahan lain yang memang diperlukan. Gaya penulisan saudara Eep sebelumnya jauh dari pembunuhan karakter seperti ini. Semisal penyebutan nama tanpa memberikan pembobotan sebagai referensi, dimana ciri ini bukanlah ciri dari seorang calon ilmuwan (scholar) Ph.D sekelas lulusan Ohio State University, AS, apalagi dari jurusan Ilmu Politik terutama bila rujukan kita adalah dosen saudara Eep di Ohio sana yang bernama Prof. William Liddle (Pak Bill Liddle) seorang Guru Besar OSU, dimana sampai sekarang alumnusnya telah bertebaran diseluruh pelosok tanah air Indonesia.

Saya Marissa Haque Fawzi, SH, MHum, Kandidat Doktor dari PSL-IPB yang sedang menunggu jadwal ujian terbuka (tertutup resmi sudah) didalam minggu-minggu ini, merasa sangat keberatan atas apa yang ditulis oleh saudara Eep Sebagai sesama calon Ph.D dimana tentu ada rambu-rambu/koridor/hal-hal tabu tertentu yang didalam pengklasifikasian seorang manusia juga sebaiknya dilengkapi dengan karya maupun atribut yang melekat dari padanya seperti layaknya oknum penulis analis politik lain di Indonesia. Sejujurnya didalam tulisan tersebut diatas, saudara Eep telah terjebak kedalam stereotipi clustering tersebut. Dengan mengatakan bahwa stigma artis (istri kedua saudara Eep sekarangpun sebenarnya termasuk dalam kategori artis) tidak layak menjadi politisi dan duduk di DPR RI mewakili jeritan rakyat yang sebagian besar hak-haknya selama ini dikebiri dengan perlakuan yang tidak adil, setara, serta pelayanan tebang pilih hanya untuk golongan status quo semata. Bahwa sejatinya tidak semua artis tidak mempunyai latar belakang pendidikan tinggi, tidak mempunyai latar belakang berorganisasi yang panjang (baik sosial/kemasyarakatan/nir-laba, dll), tidak mempunyai pengalaman berpolitik praktis, tidak mempunyai kemampuan bekerja menjujurkan keadilan dengan daya tahan (endurance) yang tangguh/tinggi, tidak mempunyai pemahaman bagaimana caranya membingkai politik Indonesia yang diduga liar ini dengan hukum, dlsb, didalam tulisan saudara Eep kelihatannya menganggap tidak perlu untuk turut diulas didalam tulisannya.
Saudara Eep Saifuloh Fatah sebagai seorang calon Doktor dari OSU tersebut juga culpa (lalai) bahwa Marissa Haque Fawzi temannya saat kuliah di Ohio, Amerika Serikat saat lalu belajar Ilmu Film, insya Allah sebentar lagi menjadi Doktor. Bahwa saya yang artis sejauh ini telah bekerja tanpa pamrih bagi rakyat dengan taruhan kehilangan kursi empuk di DPR RI karena tidak bersedia mendukung Cagub yang diduga memakai ijazah S1 palsu karena hanya diselesaikan dalam 8 bulan semata, dan perlalwanan terus menerus terhadap Mafia Peradilan disaat saya meminta keadilan atas seluruh kecurangan pelaksanaan Pilkada Banten 2006, kelihatannya luput atau dianggap tidak penting oleh saudara Eep. Termasuk ketika ditahun pertama bekerja sebagai wakil rakyat didalam koridor fungsi pengawasan jalannya pemerintahan, saya turut menggiring mantan Menteri Agama kepenjara karena terbukti menyalahgunakan dana abadi ummat untuk Haji (dapat dilihat pada: www.marissahaque-haji2005.com).

Sehingga, bilamana saudara Eep Saifulloh Fatah tidak pernah mencatat perjuangan saya selama ini, dan hasil LSI bulan Oktober yang lalu bahwa rakyat diseluruh Indonesia mencatat langkah perjuangan saya menjujurkan keadilan dan membingkai politik dengan hukum, menjadi tanda tanya besar akan parameter apa yang telah dipakai saudara Eep sebagai bahan argumen dasar penulisannya di harian kompas yang lalu itu. Ketika rakyat Indonesia memilih saya sebagai yang paling diinginkan ke 3 tertinggi dari total 21 nama yang muncul untuk terpilih sebagai wakilnya untuk didudukkan kedalam DPR RI, maka bukan salah saya maupun seluruh rakyat Indonesia bilamana nama seorang Ferry Mursidan Baldan hari ini berada jauh dibawah kami semua para artis dengan menempati urutan ke 21 dibuntut barisan nama-nama yang keluar dari hasil survey tersebut.

Bila saudara Eep Saifuloh Fatah jarang melihat acara hiburan diberbagai televisi, maka sebaiknya saudara Eep bertanya kepada sang istri Sandrina Malakiano sebagai langkah cross and checks apakah seorang Marissa Haque belakangan ini masih sesering saudara Eko Patrio didalam pemunculannya sebagai artis dimedia layar kaca selama 2 tahun belakangan ini? Apabila intensitas pemunculan seorang Marissa Haque Fawzi sudah jarang dilayar kaca, maka artinya intensitas kerja menyapa rakyat langsung dilapangan adalah sangat tinggi. Dengan berbagai perjumpaan langsung eye to eye dan shoulder to shoulder serta face to face dimasyarakat luas, maka wajah kejujuran dan suara nurani muncul tanpa dapat dihindarkan. Dari hati sanubari terdalam saya haturkan terimakasih yang luar biasa tinggi kepada LSI yang sudah melakukan survey panjang dengan hasil memberikan semangat bagi kami para artis yang belum pernah ada satupun terkena skandal kasus korupsi untuk menjalani fungsi baru sebagai wakil rakyat dan memperjuangan the silent voices yang selama ini terabaikan.

Jangan pula didalam tulisan saudara Eep kami dibenturkan antara saya Marissa Haque Fawzi dengan Ferry Mursidan Baldan karena kami adalah sesama teman di DPR RI periode lalu. Kenapa score saudara Ferry anjlok tajam? Diduga karena selama ini kerja Mas Ferry yang bagus itu hanya berkutat hanya dan untuk partainya semata. Berkutat dari satu sidang ke sidang panja dan pansus penggoalan UU Pilpres semata demikian yang diberitakan pada Kompas selama ini. Sementara dilain pihak rakyat yang sudah mulai kehilangan kepercayaan kepada partai mengidentifikasikan diri saudara Ferry Mursidan Baldan sebagai sangat lekat dengan partainya. Kristalisasi image melekat pada partai mungkin dimasa lalu menguntungkan dirinya, namun hari ini the silent voices menunjukkan arah aslinya yang bertolak belakang. Saat ini rakyat mendukung orang secara in persona, dan bukan lagi seperti masa lalu dimana rakyat dipaksa/terpaksa mendukung orang yang menempel pada sebuah partai besar.

Saya pikir saudara Eep yang saya akui kecerdasannya sebagai seorang pengamat politik sekaligus calon Ph.D dalam Ilmu Politik, hal-hal tersebut diatas secara nyata sangat disayangkan bilamana luput dari kejelian pengamatan yang tidak menghakimi. Saudara Eep Saifuloh Fatah adalah seseorang yang pernah saya kagumi isi kepala maupun cara dan gayanya didalam aktivitas penulisan esei politik. Apalagi Aci mantan istrinya terdahulu, saya dan suami saya kenal baik saat kuliah di Ohio, Amerika Serikat dulu. Dimana saudari Aci adalah keponakan W.S. Rendra dan seorang penyiar Radio di Utan Kayu (Grup Tempo), Jaktim sekaligus merangkap seorang dosen di Universitas Indonusa Unggul, Jakarta Barat.

Apapun yang telah dilakukan saudara Eep terhadap pendiskreditan para artis yang memasuki ranah politik sejauh ini telah saya maafkan dengan hati ikhlas. Sekaligus saya panjatkan sebuah doa tulus saya terhadap pernikahan kedua saudara Eep termasuk ucapan selamat berbahagia atas kelahiran putri barunya bernama Kaskaya Saifuloh Fatah dari keluarga saya di Bintaro, Tangerang Selatan. Semoga saudara Eep cepat menyelesaikan program Doktornya dari School of Political Science di OSU, Columbus, Amerika Serikat. Dan setelahnya kita dapat mengobrol serta berdiskusi panjang sebagaimana saat lalu ketika saudara Eep bersama saudari Aci istri terdahulu, saya dan Ikang Fawzi suamiku yang sedang menegok istrinya yang sedang kuliah di Ohio, serta pasangan suami-istri Ira dan Syarif sebagai tuan rumah yang memberikan tumpangan menginap saya dan suami di Kota Columbus, Amerika Serikat bercanda cerdas bersama, dalam koridor intelektualitas civitas academica. God bless you!

Salam takzim,
Hj. Marissa Haque Fawzi, SH, MHum, Kandidat Doktor.


TAGS


-

Author

Follow Me