Kopi dan Kenangan

Terharu rasanya menemukan sebuah karya tulisan esei yang pernah kubuat 5 (lima) tahun yang lalu didalam blog salah satu coffee shop di Bali dengan alamat:

http://bedugulcoffee.blogspot.com/2008/09/marissas-story.html.

Ingin rasanya saya mampir kesana bila rezekiku mulai kembali lapang. Siapapun dirimu sobat yang menghargai tulisan sederhana saya ini, kudoakan semoga panjang umur serta murah rezeki dan dimudahkan semua usaha yang menyangkut perkopian ditempat anda. Salam kasihku pada keluarga dirumah. Dari: Marissa Haque dan Ikang Fawzi.

Tulisan untuk Media, Desember 2003 
Marissa’s Story

marissa-with-coffeee-green-nuance-june-2008_.jpg
Photography by Fernandez Hutagalung 
Oleh. Marissa Haque Fawzi

Jakarta, 1 Desember 2003 Hari ini, hari Minggu. Masih suasana liburan Lebaran 14.. Hijriah. Hari-hari terakhir sebelum aku akan kembali ditenggelamkan oleh segudang target kehidupan dan masa depan. Termenung aku duduk di Musholaku. Semilir bau tanah basah bekas hujan semalam. Bunga Kembang Sepatu merah tua seakan menyapa selamat pagi untukku yang sedang enggan mandi pagi. Kupandangi kursi tua yang kududuki, warisan ibuku. Kuraba sarung jok dibawah kimono katun yang kupakai. Rasanya baru saja kuganti seminggu sebelum lebaran, tapi entah kenapa getaran kuno dari kursi tua ini selalu melambungkanku pada suatu masa kebersamaan yang hangat. Masa-masa yang terekam kuat dibawah sadarku. Orang-orang yang dekat dihati, yang telah pergi sebanyak satu generasi. Ayah Ibuku, dan keluarga besar Ibuku yang aku kasihi. 

Masih teringat dibenak saat kecil kami berempat—Shahnaz adikku yang terkecil belum lagi lahir—Mama, Papa, Soraya, dan aku berlibur dari pelosok kabupaten kecil di Plaju-Baguskuning, Palembang tempat ayahku bekerja sebagai karyawan Pertamina, menuju kota Bondowoso, Jawa Timur kampung masa kecil almarhumah Ibuku. 

Sepanjang perjalanan dengan memakai pesawat Fokker F28, yang sudah sangat terasa mewah saat itu, kami pergi terlebih dahulu menuju Jakarta, kemudian transit melalui Surabaya diteruskan perjalanan melalui darat melewati daerah Pasir Putih, baru setelah itu tiba di Bondowoso, Jawa Timur. Kami menginap dirumah besar orang Belanda istri kedua sepupu Eyang Putriku. Karena tak memiliki anak dari perkawinannya, beliau menganggap Ibuku dan semua sepupunya sebagai anaknya sendiri. Perjalanan ini menjadi istimewa, karena tak lama setelah liburan kami, Oma Belanda itu meninggal dunia. 

Ada benang merah yang membuat aku flash back kepada masa lalu. Tekstur kursi tua yang aku duduki warisan almarhumah ibuku dari rumah Belanda di Bondowoso dan aroma kopi tubruk dari cangkir yang aku gengam. Aroma ini sangat mirip dengan rekaman masa lalu bawah sadarku. Aroma yang memanggil-manggil. Ah,…wangi kopi! Bagaimana mungkin aku mengacuhkan keberadaan kopi, karena sejak diperkenalkannya di Bondowoso saat aku kecil, aku selalu ingin tahu lebih jauh. Bukan hanya karena suka akan rasa dan aromanya, akan tetapi kepada hikayat cerita yang melengkapinya. Membawa aku berkelana jauh dimasa ratusan tahun dibelakang. Oma Belanda ini sangat faham sejarah dunia, beliau juga sangat tahu nama-nama jenis kopi yang ditanam serta dibudidayakan disekitar rumah besarnya. Ya, beliau dan suaminya yang orang Jawa Timur adalah pemilik lahan luas perkebunan kopi Bondowoso saat itu. 

Masih teringat bagaimana aku sambil terkantuk duduk bersandar dibahunya, mendengar dengan seksama cerita-cerita memikat. Diceritakan bahwa biji kopi yang terbaik dari Bondowoso adalah yang sudah dimakan Musang, yang keluar bersama kotorannya. Saat itu biji kopi juga bisa didapatkan dari berbagai perkebunan lain ditanah air. Antara lain dari Aceh, Medan, Toraja, Timor, juga daerah tetangganya di Jawa Timur, Jember. Biji-biji kopi yang merah tua itu disimpan dalam karung goni digudang selama lima sampai tujuh tahunan. Biji- biji tersebut kemudian dijemur dibawah sinar matahai selama minimal tujuh jam. Setelah itu ditumbuk, disangrai, setelahnya digiling. Wah, bahagianya aku dapat membayangkan seluruh proses produksinya. Bahan informasi awal inilah yang membuat aku hari ini bersiap- siap “pulang kampung” ke Bondowoso, bernostalgia tentang keberadaan lingkungan perkebunan kopi tersebut terutama melihat kondisinya setelah terkena landreform beberapa belas tahun yang lalu, serta melihat kemungkinan membuat film dokumenter tentang Kopi Arabika asal Jawa Timur. 

Cerita sang Oma semakin memikatku, apalagi setelah diperkaya oleh hikayat perdagangan yang dilakukan orang-orang Belanda di Nusantara sebelum sang Oma lahir, kerjasama yang didasarkan secara berat sebelah oleh Kompeni, orang-orang bumi putra yang merebut kembali kekuasaan tanah ulayat milik adat, serta percintaan “terlarang” nya dengan Eyang Kakung yang tidak utuh kuserap karena faktor usia. Kuingat Soraya sudah asyik terlelap dikasur lebar, dikaki Oma Belanda bersama para sepupu yang lain. 

Sang Oma juga membagi resep, beliau mengatakan bahwa baginya usaha kopi sangat kaya seni. Seluruh proses produksi—diluar pembudidayaan kebun—dipegangnya sendiri. Ia berprinsip menjual kopi yang harus fresh. “Cara” baginya adalah sangat penting, jumlah bukan bidikan pertama. Setiap kesalahan berproses adalah proses belajar itu sendiri, kata beliau. Kata-kata ini juga yang selalu terekam dibawah sadarku, bahwa sebuah proses belajar tidak ada yang instant. Hasil akhir biarkan menjadi misteri, yang penting adalah menikmati proses belajarnya. Karena belajar itu asyik. Harus proaktif mendatangi beberapa pakar, tidak malu untuk bertanya, serta menjalin silaturahmi berkala kepada siapa saja yang bermurah hati untuk membagi ilmunya—karena menurut beliau didunia ini tidak banyak orang ikhlas yang tulus mau berbagi ilmu pada sesama. 

Dan detik ini, aku lupa bahwa aku belum menyiapkan sarapan apapun untuk keluargaku. Bik Inah pembantu yang sudah ikut puluhan tahun di dalam keluargaku masih pulang kampung, belum balik lagi. Jadi sebenarnya inilah saat yang paling tepat bagiku untuk mengekspresikan rasa cinta pada keluarga melalui perut. Salah satunya adalah dengan menuangkan kopi dalam cangkir-cangkir keramik biru kesayangan. Yang sedikit besar untuk Ikang suamiku, sementara ukuran sedang untuk Mertuaku. Anak-anakku menyukai rasa kopi didalam campuran Mocca Cream dalam mug besar. Aku ingin meneruskan kebiasaan berdiskusi ringan dengan mereka semua dimeja makan. Tentang apa saja. Tentang headline dikoran hari ini, tentang Politik, Ekonomi, atau Sosial dan Budaya. Bila diskusi tidak nyambung, tidak mengapa. Aku ingin menciptakan suasana cerdas dimeja makan. Juga penting membina kebiasaan mengutarakan pendapat dengan cara yang santun dan terasah. Mertuaku yang mantan Diplomat Karir biasanya menjadi mentor informal. Sehingga Kopi bagiku bukan sekedar minuman belaka, tetapi juga adalah perekat tali emosi didalam keluarga. 

Sementara itu diluar rumah, aku sering sekali memilih Coffee House atau Coffee Lounge sebagai meeting point walau sekedar social chat demi menyambung silaturahmi. Lebih serius lagi sering pula menjadi tempat membina relationship dengan relasi bisnis. 

Kopi memang selalu menarik. Semenarik harumnya yang selalu membuat orang mau tidak mau—walau sekedar hanya untuk menghirup aroma— menyita minimal satu atau dua detik untuk menikmatinya. 

Aroma Kopi, bagiku adalah aroma cerdas dan elegant. 

marissahaque at bali-marissa.com), December 02, 2003.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?


75 Responses to “Kopi dan Kenangan”

  1.   duitnm Says:

    Kawruh ( ILMU ) yang bermanfaat akan berkembang dan berbuah kalau semuanya Fastabiqul Khairat , kesejahteraan akan terwujud, salah satu yang penting bagaimana membangun kemandirian di internet , kalau mau belajar dan berusaha pasti Bisa , coba lihat http://duitnm.co.cc itu salah satu usaha….menunuju kemandirian dan sejahtera untuk keluarga

  2.   Pepih Nugraha Says:

    Assalamualaikum, Bu Marissa…. tampilan blog Ibu punya malah lebih baik dari yang saya punya di http://www.pepihnugraha.com. Mungkin yang harus Ibu pelajari adalah bagaimana membuat link pada setiap tulisan. Misalnya kalau mau nge-link tulisan ibu di Bedugulcoffee itu, Ibu tidak harus menulis alamat lengkap seperti itu, tetapi cukup membuat tautannya. It’s okay, nanti Ibu bisa pelajari sendiri. Saya bukan ahli desain blog, tetapi konten tau sedikitlah. Judul blog sudah mencerminkan isi “Fastabikhul Khairat”. Khalayak yang dituju pun jelas, yakni Muslim. Sebagai calon legislator dari PPP, judul dan isi blog sudah pasti tepat buat mereka. Memang seharusnya fokus seperti ini, Bu. Kalau boleh saya usul, isilah konten dengan pemikiran dan gagasan baru atau kegiatan terbaru Bu Marissa, bahkan rencana yang akan dilakukan. Misalnya jadwal Ibu temu kader di suatu tempat, sudah diwartakan sebelumnya di blog ini. Dengan demikian, orang (pengunjung blog) merasa disajikan hal-hal baru dari seorang Marissa. Kegiatan yang lama telah Ibu lakukan, sebaiknya bikin KATEGORI baru saja, misalnya ALBUM LAMA atau apapun namanya. Jika Ibu concern dengan blog ini, mulailah mempromosikannya dengan cara blogwalking? What does it mean? Ibu harus sering jalan-jalan ke blog orang lain (mungkin sehari 10 blog orang lain saja) dan nukilkan pesan di sana, secara otomatis orang akan balik berkunjung ke blog Ibu. Kalau sehari saja ada 10 yang balik berkunjung, maka dalam sebulan sudah ada 300 orang. begitu seterusnya (maaf bukan ngajarin nih, Bu). Promo lainnya yang sederhana, buatlah kartu nama Ibu Marissa dengan mencantumkan ALAMAT BLOG ini. Cetak kaus terbatas yang khusus mewartakan blog Ibu. Bikin stiker blog Ibu dan tempelkan salah satunya di mobil Ibu, maka orang akan langsung berkunjung ke blog Ibu Marissa. Wah, banyak cara deh, Bu…. dan satu kunci lainnya: Isilah secara berkala blog Ibu!!! Entah itu seminggu sekali atau 2 minggu sekali. Yang penting jangan asal bikin. Saya sarankan, karena nama blog Ibu terlalu panjang, apakah tidak lebih baik alamatnya menjadi http://Marissahaque.com saja, biar mudah diingat. Terima kasih…

  3.   arafah2004 Says:

    yang sabar yach mba, saya yakin dengan kekuatan cinta mba dengan abang ikang fawzi, pasti semua bisa berjalan dengan mudah.

    ciri-ciri orang yang beriman kata Nabi, orang itu akan dicoba terpaan berbagai cobaan dan ujian, lalu ALLAH berbicara kepada Nabinya, apakah ini hamba KU yang beriman, lihatlah, ia akan ku timpakan berbagai kemalangan..

    saya yakin, mba dan abang ikang fawzi, pasti akan bisa melalui berbagai ujian.

    http://www.zorpian.com/arafah2004

  4.   nikeardilla Says:

    Tulisan yang benar2 Indah Mbak Marissa..teruslah berkarya:)

  5.   iklan-sukses.com Says:

    hai mba… akhirnya aq nemu jg ni blog mba marissa . salam buat mas Ikang fauzi, kangen sama lagu2nya :)

  6.   hilman Says:

    Suka kopi ya Mba’e…? :)

  7.   Papa Dio Says:

    tahun 2003…sebuah arsip online yang sangat berharga

  8.   Genx Says:

    Halo mbak Marissa apa khabar smoga selalu dalam lindunganNYA,….mbak ngomong2 msh menyimpan kaset MARISSAHAQUE BAND ga,….kl masih bagi dunk mbak

  9.   fathur Says:

    masyaa allah…
    semoga Bu marissa membawa perubahan kaum hawa Indonesia kearah yang lebih baik.

  10.   casmidi Says:

    baru baca sepenggal paragraf sudah merinding, ikut terharu dengan dengan suasana batin aku pada saat mau lebaran. Mba marissa aku lihat sekarang ini tampil dengan sosok yang melawan arus, maju terus karena keyakinan yang tinggi bahwa kebenaran harus di tegakkan, bravo… salut. Teriring do’a semoga langkahnya selalu di lindungiNya dan tercapai apa yang diyakininya itu benar. Amien.

  11.   VDios Says:

    Mba Icha, makin berumur koq bisa makin cantik aja ya?

  12.   yanifaridz Says:

    cerita yang menarik dengan tutur gaya bahasa yang enak dibaca dan dicerna

  13.   Avis Says:

    Kapan maju lagi jadi calon Gubernur nih Mbak?

    Pejabat-pejabat yang sekarang kayaknya banyak yang mesti digantikan tuh …..

    Mikirnya korupsi melulu …..

    Salam dari bogor

  14.   akhasy Says:

    Salam kenal mbk Ica,
    Aku salut lo sama mbak Ica, kalau saja banyak perempuan Indonesia seperti mbk, saya fikir gak bakalan ada banyak tkw kita yang jadi korban ya mbk. eh tulisannya dalam lo maknanya, ngebaca blok mbk Ica aku jadi ingat masa kecilku dulu mbk, emang benar lo kopi yang enak itu yg berasal dari biji kopi yg sudah dimakan musang he he he. waktu kecil dulu aku sering mbk, nyari biji kopi dari eek musang he he he.
    oh iya, aku dari Bengkulu mbk, tetangga mbk Ica dulu!
    ketika membaca tulisan ini aku seola-ola berada dimasa itu, aku merasakan bahwa story ini mempunyai nyawa, dan akan terus hidup dalam kenangan saya.

  15.   erfira Says:

    Assalamu’laikum mba Ica
    setuju mba… Kopi is go-od
    Salam dari temen Shafira: Ust. Budi P, Lisa, Willa, ext

  16.   Angthoink Says:

    Ass. Mbak Marissa, aku cemburu banget deh ama Ikang Fauzi, enak banget punya istri sudah pintar, cantik, cerdas, penurut, sayang keluarga, subhaaanallah, bahagia banget Ikang Fauzi menemukan sorga selagi masih di dunia dan masih hidup.
    Wassalam

  17.   NANIA Says:

    YUP KOPI BAGI AKU JUGA MBK MEMBUAT ARTI YANG BEGITU BANYAK DAN AKU BISA BILANG KOPI MENUNJANG KERJAAN KU ,KOPI ITU CERDAS DAN KOPI ITU INDAH

  18.   Mbok'e Kendil Says:

    Mbakyu…tulisanmu bagus betul. cerita-cerita kecil ini sebetulnya bisa dibikinkan bunga rampai lho.
    BTW, aku kehilangan HP sejak kita ketemu dua bulan yang lalu (kita pisahan pas magrib…eh besoknya hilang mbak), sehingga nomor Mbak dan Menik juga menghilang.
    bagaimana kemajuan disertasimu Mbak…. aku menunggumu di singgasana di Manggala Wanabhakti.

    Diah Raharjo

  19.   syeful Says:

    mba marisa, tolong dong critain caranya jd artis gt……..

  20.   anny Says:

    Assalammualaikum Mba Icha
    Salam kenal ya? Dulu saya sering buka web Mba Icha lho
    Wah senang deh sekarang udah bikin di detik, sesekali tinggalin jejak di blog saya ya mba
    http://anny.blogdetik.com

  21.   A Saripudin Says:

    aku juga pecinta kopi,kalau saja aku ada kesempatan untuk bisnis kopi aku akan tanam kopi yang luas.karna daerahku cocok untuk berkebun

  22.   Ekalda (Alda) Says:

    Mba Icha yg manis,

    Sebelumnya aku mau ngucapin “met ultah” ya mba. Meskipun telat.
    Moga mba Icha sukses selalu.

    Seneng bisa baca blog mba Icha yg cerita mengenai masa-masa indah mba Icha dan keluarga di Bondowoso. Kebetulan saya lama tinggal di Jember, dan Bondowoso adalah tempat main kami waktu dulu. Jadi Jember sudah seperti kampung halaman sendiri. Lama gak denger kabar mba Icha. Moga mba Icha bisa mengisi blog ini dengan artikel2 yang menarik yg berkenaan dengan Fastabiqul Khairat.

    Salam

  23.   Gelandangan Says:

    wahhhh tulisan mbak bagus yah enggak nyangka loh mbak :D
    ayo ngeblog mbak

  24.   hanikorea Says:

    subhanallah..akhirnya bisa baca tulisan mbak..ringan tapi penuh makna.kalau nanti saya sudah pulang ke indonesia pingin rasanya ketemu mbak…makasih ya mbak.

  25.   Budi Sutria Says:

    Assalamu’alaikum mba icha…apa kabarnya ni? baik2 aja Insya Allah….bagus ni blognya…senang akhirnya bisa komunikasi kembali via internet ini kembali.

    Salam untuk semua di rumah…

    Wassalamu’alaikum

  26.   Ilham Wahyudin Says:

    Mba Marissa yang baik hati, terima kasih atas artikelnya yang sederhana namun harum seharum aroma kopi, artikel ini memberi inspirasi bahwa kopi bisa menjadi sabahat kita untuk mengharmoniskan hubungan keluarga…..sekali lagi terima kasih. Selain itu kami juga mendoakan semoga perjuangan Mba Marissa dalam menegakan kebenaran dan keadilan diberikan kemudahan dan selalui diridhoi Allah SWT. Amien…

  27.   Syafruddin Says:

    Hidup ini harus dinikmati seperti meminum secangkir coffe, pahitnya coffe terasa nikmat tatkala sudah dihirup masuk menelusuri relung jiwa yang paling dalam, hidup yang penuh arti, kesederhanaan dan tabah menghadapi persoalan serta terus mencari how to solve yours problem ?, hidup adalah perbuatan untuk memilih tak memilihpun sudah menjadi pilihan, perjuangkan kebenaran mbak Icha, hadapi si Ratu dengan sopan dan cerdas jangan childish ok

  28.   dien Says:

    mbak marissa saya komentar pertama ,mau tanya setelah baca profilenya.Apa nggak berat tuh begitu banyak titel yang disandang ap yang ingin diraih? wah beanya berapa tuh??…maaf kalau salah ,tks.

  29.   ila Says:

    assalamu’alaikum WR. WB

    Bunda Marisa yang saya hormati, saya ingin bertukar pengalaman dengan bunda dan belajar dari bunda. Dengan rendah hati bolehkan saya berteman dengan bunda? saya asli dari Kediri jawa Timur. Dirrumah mertua saya ada pohon kopi yang sdh tua, bagi saya kopi ini adalah yg no 1 di dunia, rasanya beitu enak. Dulu saya nggak pernah minum kopi, tapi setelah meminum kopi itu sekarang aku jadi ketagihan, pagi hari klo belum minum kopi itu kayaknya hidup ini tadak ada semangat, tapi setelah minum kopi begitu semangat. bagiku kopi adalah penyemangat hari hariku. mungkin itu dulu coment dari saya. atas perhatian bunda, saya ucapkan terima kasih.

    Wasalamu’alaikum WR. WB

    Ananda Ila

  30.   ./s1ncl3@n Says:

    http://wpmu.org/2008-wpmu-awards/2008-wpmu-awards-nominations/
    vote for kabarmadura infokan ke seluruh teman dan komunitasmu ayoooo ….. go indonesia

    salam buat mbak marissa

  31.   tonosaur Says:

    kopi instan atau kopi tubruk bu..???

  32.   Erna Says:

    Assalamu alaikum Bu…

    Bagus sekali tulisan ini. Sederhana, vulgar tapi wanita sekali. Aku sangat bisa menangkap “rasa”nya.

    By the way Bu…aku juga penggemar kopi loh…

    Wassalamu alaikum wr wb

  33.   simpay Says:

    tulisan yang menarik….kenangan masa lalu yang indah…

  34.   ikhwan kunto alfarisi Says:

    hi bu, apa kabar? kmana aja skrg?

  35.   mdrivai Says:

    maju terus pantang mundur

  36.   Rini Says:

    Walau aku baru baca sekarang, cerita ttg kopinya sangat menarik dan aku setuju dengan pendapat Mba dg aromanya.
    Dulu aku minum susu selalu pake kopi, enak banget…
    Sayang…sekarang perutku agak bermasalah dg kopi.
    Tapi dikit2 masih bisa menikmatinya…
    Salam juga dari kami

    wassalam,

  37.   Puji Rahmat Says:

    Aslm.wr.wb.
    Ceritanya enak dan mengalir..
    Membacanya membawa saya seakan berada di sana bersama Mbak…
    Inspiratif dan kaya akan hikmah… Mengajak kita memaknai lebih dalam apa yg kita hadapi selama ini..
    Wslm.wr.wb.
    Puji Rahmat
     Pujirahmat.blog.detik.com)

  38.   Abi Aisyah Says:

    Maha besar Allah yang telah menciptakan tumbuhan penghasil kopi,dan bermanfaat bagi seluruh mahluk-Nya, mudah-mudahan ketika kita menikmati secangkir kopi, kita tidak saja ter-kenang akan masa-masa lalu kita yang indah, tetapi juga teringat akan segala ciptaan-Nya…….

  39.   adhi Says:

    nice and memorable story behind of coffee

  40.   Fajr Says:

    wew baru tahu saya… bu marissa, coffee mania ya… :)
    salut deh tulisan 5thn yg lalu, dibaca lagi… masih ber aroma –cerdas&elegan–
    walaupun saya newbie di dunia blogging nasional.
    tulisan bu marissa bisa dijadikan inspirasi nih, kenangan lama akan terasa baru jika disajikan dengan proporsi kata yang pas tidak berlebihan. :)

  41.   cyperus Says:

    kopi adalah sahabatku.. hari2 seperti tak berarti tanpa kopi..

    salam kenal mbak..

  42.   iBnu Says:

    wahhh
    ternyata dari bondowoso yaaa

  43.   andy karaeng Says:

    Salam kenal mbak, saya kebetulan lewat dan membaca tulisannya tentang kopi, bagus ceritanya pas, itu karena saya juga pencinta dan penikmat kopi..he..he…, Oya saat ini kami masih di Amerika (Los Angeles, California) sejak Januari 2007, dan rencana mo balik ke Indo 2010 dan juga mau buka “warung kopi” tentu dengan khas dan ornament serba unik, yang sengaja kami bawa dari sini.

    Insya Allah, nanti kita bisa bertemu dan ngobrol di “Warung Kopi” ya.

    Salam.

  44.   rogerz.rogerz10 Says:

    Wenak tenan yo mbak icha …
    Kopi nyo…
    Po meneh di gawe kopi ne karo mbak icha
    Sheeep lahH…

  45.   herry Says:

    lah…. bunda Marissa belom nyoba KOPI JOSS nya Lek Man di ANGKRINGAN Jogja khan..???
    Coba aja bunda Marissa, bukannya lebih deket dari Bali..???
    Malah jangan-jangan bunda engga tau apa itu ANGKRINGAN…???
    Jadah Bakar + Kopi Joss + Nasi Kucing Ikan Lumba-Lumba Sambel Trasi + Sate Telur Puyuh……
    (hmmm yummy….)

    Lokasi sebelah utara statiun tugu datang aja kalo malem.
    Kawasan nongkrong yang asik…

    Salam bunda Marissa dari Jogja…
    Pecinta Angkringan (murah, enak, bergizi)

  46.   zaenal abidin mk Says:

    cukup menggugah, salam dari dunia properti di Tegal

  47.   RUPIAH Gratis Says:

    sambil surfing minum kopi mak nyooos deeh.. apalagi dapat uang gratisan di http://www.RUPIAH.TK

  48.   Defiyan Cori Says:

    Assalamuálaikum Wr.Wb.
    Mbak Marissa, akhirnya bisa jumpa di blog ini…
    Tulisan yang menarik dan mudah dibaca..
    Masih ingat saya kan mbak? Kami mengundang mbak sebagai pembicara Seminar Otonomi Desa dulu di Hotel Sheraton Media, saya waktu itu kerja di Ditjen PMD, Departemen Dalam Negeri (Depdagri). Sekarang saya di BAPPENAS.

    Semoga mbak punya waktu untuk ketemu lagi dengan saya, dan semoga disertasinya cepat selesai. Amien ya rabbilálamin

    Salam dan sukses untuk mbak dan keluarga

    Defiyan Cori (Def)

  49.   Defiyan Cori Says:

    Assalamuálaikum Wr. Wb.
    Alhamdulillahirabbilálamin, akhirnya bisa komunikasi dengan mbak Marissa.
    Salam kenal kembali, walau kita telah pernah bertemu dulu pada saat acara Seminar Otonomi Desa yang diadakan oleh Direktoratr Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Ditjen PMD), Departemen Dalam Negeri di Hotel Sheraton Media, waktu mbak Marissa Haque kami undang sebagai pembicar bersama dengan Mas Imam Prasodjo.
    O,ya bgm dengan disertasinya mbak? Semoga lancar2 saja dan dimudahkan oleh ALLAH SWT.
    Saya berharap suatu waktu dapat bertemu lagi dengan mbak,jika mbak ada waktu luang…

    Wassalam
    Defiyan Cori (Def)

  50.   yanifaridz Says:

    aku suka tulisan gaya bahasa mba mariza…daripada tulisan sok filsafatnya dee yang akhirnya pusing sendiri sama dengan hidupnya dee yang memusingkan & membingungkan…ups…kok jadi gosip

  51.   Hary4n4 Says:

    Kopi…? Wah, terlalu banyak kenangan yg sudah ditorehkan. Mungkin sudah ribuan kenangan yg menyertaiku bersama kopi. Jadi ingat semuanya nih.. Salam kenal mbak.

  52.   G Handoko Says:

    Hai, saya dari SMANDEL “82(elektroUSAKTI juga). maju terus Icha, Negara ini jauh tertinggal dari peradapan sekarang, apalagi Demokerasi. Kamu tahu hukum yang tak boleh bisa dibeli kan?

  53.   dany setiawan Says:

    hai mbak marissa.. mbak cantik deh.. pintar lagi…..

  54.   lisnosetiawan Says:

    Mbak marissa, anda mempunyai bakat menulis yang elegan. Saya yakin tulisan-tulisan anda akan lebih banyak memberikan gairah bagi rakyat kita ketimbang bersuara di depan dewan yang sangat penuh dengan tipuan.

  55.   arieya Says:

    mbak Marissa cantik deeh… Pake banget mbak…

  56.   Yudi Dwi Harjo Says:

    Jadi ingat waktu SD idola artis perempuan saya adalah Marissa Haque karena selain cantik juga cerdas dan saya bangga pada sosok mbak marissa sampai sekarang apalagi keberanian beliau di kancah politik Indonesia walaupun sibuk sebagai Ibu, istri & artis Top

  57.   Rasyq Says:

    Maju terus Mba pantang mundur selama kejujuran di jadiin landasan atas segala tindakan dalam memperjuangkan kebenaran….Bravo Mba Marisa and salam buat Mas Ikang….

  58.   rury Says:

    buat Ibu marissa emg T.O.P d

  59.   Muwahhidin Firdaus Says:

    Mba Icha.. maju terus.. pantang mundur !!!

  60.   mrd Says:

    Salam kenal Mbak,

    tulisannya mengagumkan. Mbak akhiri perseteruan dengan Ratu Atut dengan damai ya……………

  61.   MARLIS Says:

    Indah sekali tulisannya yg dibuat tahun 2003. Malah saya teringat sinetron Icha sekitar periode itu juga barangkali, yg berjudul Masih Ada Kapal Ke Padang, suatu film yang amat bagus. Salam ya sama Ikang, kawan sealmamater kampus UI Salemba-Rwamangun. Marlis, FHUI

  62.   wiwidBM Says:

    Dear Mbak Icha….
    Beberapa tahun yang lalu saya pernah baca tulisan tsb di suatu majalah ….
    Saya dulu begitu tersentuh habis membacanya…..Tapi sekarang saya ulang lagi saya makin tersentuh, mungkin faktor usia dan kematangan dalam mencerna kehidupan…….

    Dari tulisan yang sederhana itu terkandung nilai2 yang bisa membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Misalnya kata terlarang, cara sangat penting, jumlah bukan goal utama, kesalahan adalah proses belajar, tidak ada yang instant , hasil akhir biarkan menjadi misteri (karena semuanya kehendak ALLAH SWT), yang penting menikmati proses belajarnya, proaktif, silahturahmi dan ikhlas berbagi………..

    Mbak Icha,
    Teruslah berkarya, berjuang dan berdoa
    Semoga ALLAH SWT memberikan yang terbaik menurut-NYA
    Bukan menurut kita sebagai manusia……….

    Warm Regards,

  63.   Hari Says:

    mbak Icha ini luar biasa,
    cantik dan cerdas :D

  64.   iin Says:

    Assallamuallaikum
    Mba icha..memang ibu,artis, politikus yang pualllllling pintar dan cuantik dinegeriku Indonesia..tapi jangan lupa ama mas ikang yang membuat mba icha menjadi SEMPURNA..

  65.   ayay Says:

    saya memang bukan pecinta kopi
    bahkan perut sy selalu protes jika saya minum kopi
    tapi sy selalu jatuh cinta dengan aromanya….

  66.   Myryani Says:

    saya juga sdg senenk2 nya minum kopi nech mbak…

  67.   David H. Imadde Says:

    Assalamualaikum, memang benar mbak, kopi2 dari Bondowoso memang terkanal, pernah suatu hari ada teman dari Eropa. Kami kesana untuk menemukan kopi luwak itu, Ternyata dia sangat asyik dengan aroma dan rasa dari kopi itu, dan akhirnya kopi yang dalam kopi kenangan itu yang Mbak kenangkan memang membuatnya cinta dari hasil bumi Bondowoso. Jadi sampai saat ini kopi tersebut tetap dikirim ke Eropa buat teman tersebut. Itulah sekedar pembuktian kopi kenangan dari Mbak Marissa. Salam Kenal dari saya, sukses selalu mbak.

  68.   Diana Says:

    Saya sangat mengagumi mbak marissa. Mbak adalah salah satu perempuan yang cerdas, dan berhasil. Mbak juga mempunyai keluarga yang luar biasa.
    Semoga di hari yang akan datang, mbak marissa diberikan lebih banyak lagi berkah dari Allah swt.

  69.   syarif Hidayat Says:

    Bagus banget alur ceritanya

  70.   mohamad arief marta Says:

    saya bangga dan salut dengan mba.udh pinter cerdas pula lgi.

  71.   Putranto S Says:

    Assalamu’alaikum

    Mbak Marissa, yang pasang tulisan Mbak tanpa permisi di blog tsb adalah mohon maaf …. saya (Putranto S. / Tanto).

    Saat saya baca cerita Mbak Marissa tersebut, indah sekali, menggambarkan kecintaan seseorang pada kopi, yang tumbuh di lingkungan kopi.

    Sebelumnya saya tidak mengira bahwa Mbak Marissa adalah seorang ahli kopi dari kecil. Ya, saya bisa pastikan itu, karena anda di cerita ini sejak bangun pagi sudah mencium aroma kopi, apakah yang dari kebun (masih buah kopi), yang sudah matang disangrai, atau yang sudah diseduh… luar biasa.

    Cara anda menyampaikan cerita itu juga sangat realistis dan seolah-olah saya turut mencium aroma kopi .. :)

    Saya mencoba untuk kirim e-mail ke Mbak Marissa untk minta izin, ke email marissahaque@bali-marissa.com, namun “mental”. Saya menduga karena e-mail tersebut sudah 5 tahun yang lalu dan sudah tidak aktif, dan saya putuskan ingin memuat cerita tersebut di blog saya.

    Sekali lagi, mohon maaf sebesar besarnya saya telah memasukkan karya cipta dan cerita Mbak Marissa tanpa izin terlebih dahulu. Kalau keberatan, akan saya hapus.

    Maksud saya hanya satu, ingin memuat cerita sebanyak banyaknya mengenai kopi di Indonesia didalam satu blog, dan untuk itu saya “terpaksa” comot sana sini cerita dari blog lain, dengan tetap menghormati sumber aslinya dan memberitahukan sumber asal dari tulisan tersebut / link url.

    Saya memang sedang merintis untuk menjual kopi, apakah itu kopi bubuk, kopi biji, maupun minuman kopi (beverage). Dan utamanya adalah kopi dari Bali. Dorongan ini muncul tatkala saya sedang di Denpasar dan dibawakan kopi oleh seorang teman, kopi dari kampung halamannya di daerah Buleleng.

    Sejak itu saya hanya ingin agar kopi yang dari Bali ini menjadi kopi yang disukai oleh semua orang, karena memang sangat enak rasanya. Terlepas apakah orang bilang arabica lebih enak dsb., namun kalau robusta Bali yang satu ini memang enak, kenapa harus dipungkiri dan seolah-olah “tidak berkelas” kalau bukan arabica.

    Hal lain adalah kekhawatiran saya akan negara seperti Vietnam yang notabene adalah penghasil robusta yang telah mengalahkan Indonesia. Bahkan sekarang Laos sudah ikut-ikutan, dan entah nanti negara mana lagi di Asia Tenggara yang tidak layak tumbuh kopi di daerahnya, tapi bisa jadi negara pengekspor kopi. Malaysia ? Singapore ? Brunei ?

    Sementara kita di Indonesia saling sikut dan takut untuk maju bersama, karena khawatir didalam kebersamaan ini akan rugi dan akan ada yang lebih diuntungkan. Dan lebih parah lagi, buyers dari luar negeri datang langsung ke masing-masing petani, dan mulai mengontrol produksi dan harga. Disatu pihak petani diuntungkan, tapi dilain pihak petani bergantung pada satu buyer saja. Disaat harga turun seperti sekarang, petani terpaksa juga menanti sampai harga menjadi baik.

    Ya, Mbak Marissa tentu lebih mengerti mengenai hal-hal spt ini.

    Kembali ke cerita saya, saya ingin Robusta Bali menjadi “pionir” untuk robusta lainnya di Indonesia dan kita sebagai penghasil kopi harus menjadi pihak yang men-dikte pasar dan bukan sebaliknya. Anda tau cerita mengenai Robusta Sidikalang tentunya, yang sekarang sudah turun pamornya karena yang dari Sidikalang konon bukan robusta lagi, tapi arabica.

    Saya bukan petani kopi, hanya coffee addict yang sangat cinta kopi dan sangat cinta negeri ini, dan punya keinginan untuk “nimbrung” di bisni kopi :)

    Demikian penjelasan yang bisa saya berikan, dan semoga kontak saya dengan Mbak Marissa tidak hanya sampai disini saja.

    Salam Sukses untuk Mbak Marissa dan Mas Ikang Fawzi beserta seluruh keluarga !

    Putranto S.

  72.   Putranto S Says:

    Assalamu’alaikum,

    Mbak Marissa, saya lupa bilang terimakasih. Saya merasa sangat terhormat dan dihargai, dengan tulisan mbak di awal halaman ini.

    Amin, Ya Rabbal ‘Alamin, mbak telah mendoakan saya panjang umur dan murah rizki dan dimudahkan usahanya dalam perkopian. Amin Ya Allah.

    Dan saya juga memohon kepada Allah agar mbak Marissa dan keluarga selalu dalam lindunganNya dan diberi jalan dan petunjuk dan keselamatan dalam hidup ini, juga dalam dunia politik yang mbak tengah geluti sekarang ini.

    Salam dari saya dan keluarga (di Jakarta), dan dari teman-teman kami di Denpasar.

    Putranto S.

  73.   resume Says:

    Yeah absolutely very favorable for the peruser it was pleasant to read about this good topic! If you need to get a great job firstofall you need resume company. Study and don’t forget - if you have to work and study at the same time, there arehotshots who are ready to helping hand you with your resume when you under time burden and looking for a great job.

  74.   JOni GUdang Says:

    Selamat jalan Bang Franky Sahilatua

  75.   Dudung Says:

    Selamat jalan Bang Franky Sahilatua

Leave a Reply